Tetap Saleh dan benar meski kaya raya dan berkelimpahan, bertanggungjawab atas keluarganya
Ayub 1:2-5
Selanjutnya kita melihat bahwa kehidupan Ayub bukan hanya saleh dan benar. Namun juga ia juga memiliki harta benda yang melimpah. Pada masa itu, ukuran kekayaan seseorang adalah jumlah ternak yang dimiliki. Ayub memiliki banyak sekali hewan ternak. Di samping itu, ia juga memiliki banyak anak-anak, yang mana sering mengadakan pesta. Namun sebagai orang tua yang saleh, ia memberikan teladan yang baik oleh karena kesalehannya itu.
Ia selalu mempersembahkan korban bakaran sesuai dengan jumlah anak-anaknya, dengan maksud memohonkan pengampunan apabila pada saat pesta semalam secara sengaja atau tidak sengaja mungkin ada tindakan dari anak-anaknya yang menghina atau menyakiti hati Tuhan.
Dengan hal itu, Ayub juga memberikan teladan yang baik oleh karena kesalehannya itu. Kita juga bisa melihat di sini bahwa kekayaan yang dimiliki Ayub tidak membuat Ayub lupa dan takabur. Tidak membuat dia merasa sombong dengan kekayaan dan kelimpahan yang dia miliki. Dan dia juga tidak lupa diri oleh karena kekayaan dan kelimpahannya itu.
Justru sebaliknya, dengan kekayaan dan kelimoahannya itu, kehidupan Ayub semakin saleh dan benar. Terbukti bahwa ia senantiasa mempersembahkan korban bakaran keesokan harinya setelah selesa pesta semalam. Jelas bahwa Ayub memberikan teladan bahwa meski ia kaya raya dan berkelimpahan, ia senantiasa menjaga kesalehan hidupnya. Ia tidak silau dengan gemerlapnya kekayaan dan kelimpahannya. Ia juga menjaga kekudusan di hadapan Tuhan, bahkan juga keluarganya. Sebagai kepala rumah tangga, iapun bertanggung jawab atas keluarganya. Kesalehannya bukan hanya untuk kehidupannya sendiri, tetapi juga seisi rumahnya.
Maka dari itu kita belajar dari kehidupan Ayub bahwa ia tetap menjaga kesalehan dirinya meskipun kaya raya dan berkelimpahan. Selain itu, ia bertanggung jawab juga atas keluarganya.
©Lunar Solarius
+6281230188946
Comments
Post a Comment