Tetap Miliki Sukacita Walau Keadaan Sulit

Tetap Miliki Sukacita walau Keadaan Sulit

Filipi 4:4

Rasul Paulus, pada saat itu, mengalami pemenjaraan oleh karena pemberitaan Injil. Surat Filipi adalah salah satu surat Paulus ketika berada di penjara. Surat ini ditujukan kepada jemaat di Filipi oleh karena permasalahan yang terjadi dalam jemaat di Filipi, yaitu konflik pribadi yang berdampak pada pekerjaan Tuhan di Filipi.
Untuk itu, Rasul Paulus menuliskan surat ini agar permasalahan bisa diselesaikan dengan baik. Dalam suratnya tersebut, Rasul Paulus memberikan nasihat agar senantiasa menjaga kesatuan dan persatuan di antara jemaat yang sedang berselisih, yaitu dengan mengutamakan kepentingan orang lain dan belajar merendahkan diri sama seperti Kristus yang menrendahkan diri, mengambil rupa sebagai seorang hamba, tidak menonjolkan keutamaan diriNya, mengosongkan diri sebagai manusia, tidak meanggap kesetaraan diriNya sebagai Allah, bahkan rela mati demi umat manusia. Inilah nasehat yang diberikan Rasul Paulus kepada mereka. Dan juga Rasul memberikan tegoran supaya mereka bertobat.
Namun apabila kita mau meneliti lebih lanjut, maka kita akan melihat bahwa Rasul Paulus juga memberikan suatu motivasi kepada jemaat di Filipi. Dalam keadaannya yang sedang dipenjara, justru Paulus mendorong kepada jemaat itu untuk senantiasa bersukacita.
Filipi 4:4  Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
Dalam bahasa aslinya (Yunani)
ΦΙΛΙΠΠΗΣΙΟΥΣ 4:4  χαιρετε εν κυριω παντοτε παλιν ερω χαιρετε
Transliterasi: kairete en kurio pantote palin ero kairete
Analisis
καιρετε = kata kerja kini, aktif, imperatif, orang kedua jamak
εν= preposisi
κυριω = kata benda datif, maskulin, tunggal
παντοτε = kata keterangan
,παλιν = kata keterangan
ερω = kata kerja futur, indikatif, aktif, orang pertama, tunggal
καιρετε = kata kerja kini, aktif, imperatif, orang kedua jamak

Kata kerja ",καιρετε" atau diterjemahkan dalam bahasa indonesia "bersukacitalah" berasal dari akar kata kerja "καριω" atau kariou yang bisa diartikan, "sukacita, bahagia, semangat" sedangkan apabila menjadi bentuk kata kerja imperatif maka akan menjadi "bersukacitalah, berbahagialah, bersemangatlah". Sedangkan bemtuk tensis/kala present atau kini menunjukkan bahwa tindakan yang sedang berlangsung. Bentuk aktif dari kata kerja tersebut adalah subyek terlibat dalam tindakan tersebut (bersukacita). Sedangkan bentuk imperarif itu adalah sebuah perintah. Sederhananya bisa dierjamahkan "kalian (jemaat di Filipi) bersukacitalah!" pada bagian pertama dari ayat 4. εν merupaka preposisi dari kata benda κυριω yaitu Tuhan, jadi terjemahannya "di dalam Tuhan."
Lalu pada bagian kedua dari ayat tersebut ada kata kerja "ερω" yang merupakan bentuk futur dari kata "ερεω' yang berarti "Akan ku katakan" atau "Aku akan berkata." Menunjukkan bahwa Paulus akan mengatakan (sekali lagi/παλιν) agar senantiasa bersukacita di dalam Tuhan. Penekanan yang dimaksudkan Paulus dalam ayat ini adalah supaya jemaat di Filipi memiliki sukacita (semangat) di dalam Tuhan.

Mendemgar kabar bahwa Rasul Paulus dipemjara, tentunya membuat sedih hati jemaat di Filipi. Hal ini juga bisa berdampak dengan kehidupan jemaat itu. Namun Paulus masih sempat memberikam perintah untuk senatiasa bersukacita (bersemangat) di dalam Tuhan. Perintah untuk senantiasa bersukacita (bersemangat) itu sifatnya kesinambungan karena penggunaan kata keterangan παντοτε dalam ayat tersebut.
Paulus sadar bahwa keadaanya sedang sulit karena dipenjara sehingga pekerjaan pelayanan pekabaran Injil dan penggembalaan di beberapa tempat menjadi terganggu. Namun ia sebagai perintis jemaat, ia harus menjadi teladan bagi jemaatnya yaitu dengan memberi mereka motivasi dan semangat. Dengan demikian, jika jemaat yang ia layani tetap memiliki semangat walau keadaan sangat sulit sekalipun pasti akan bertumbuh dan berkembang baik kehidupan secara jasmani maupun rohani.

Demikianlah dengan kita sebagai orang percaya masa kini, karena perintah Paulus bukan hanya kepada jemaat di Filipi kala itu tetapi juga kepada orang percaya pada masa kini. Apalagi saat ini kita sedang mengalami masa sulit akibat pandemi yang melanda negeri ini dan kitapun merasakan dampaknya. Namun meski demikian, kita harus memiliki sukacita/semangat di dalam Tuhan. Karena,
1. Melalui sukacita/semangat dalam diri kita bisa memancarkan kebaikan dari diri kepada orang lain sebab kedatangan Tuhan sudah dekat. Hal ini mendorong kita untuk berbuat baik dan mengasihi orang lain. Dengan sukacita/semangat yang kita miliki di dalam Tuhan maka dampak positifpun ikut tertular kepada mereka yang sama-sama merasakan kesulitan agar beban kesulitan yang dialami akan terasa ringan bila dipikul bersama. Ibarat pepatah "Berat sama dipikul,  ringan sama dijinjing." Seakan Paulus tidak mau menambah beban jemaatnya itu. Maka ia terus memberikan motivasi yang positif. (Ayat 5)
2. Tuhan pasti akan mencukupkan kebutuhan kita melalui permohonan doa dan ucapan syukur kita kepada Tuhan. (Ayat 6)
3. Filipi 4:7  Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Sebagai kesimpulan, sangat jelas bahwa meski di masa yang sukarpun, kita sebagai orang percaya untuk senantiasa bersukacita dalam Tuhan. Bahkan disaat kita juga mengalami masa sukarpun, masih bisa menjadi berkat bagi orang lain, yaitu dengan memberikan motivasi dan dorongan yang positif kepada orang lain. Dengan demikian kehidupan kita bisa menjadi terang dan berkat bagi orang lain, terlebih dalam situasi yang sulit dan tidak menentu saat ini.
Tetap semangat dan sukses selalu.
Salam sehat. Tuhan memberkati.

©Lunar Solarius
+6281230188946

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang