Sikap Orang Percaya dalam Menghadapi Tantangan

Sikap Mental Orang Percaya dalam Menghadapi Tantangan

Bilangan 13-14
Bangsa Israel pada waktu itu hendak menduduki tanah Kanaan. Karena mereka belum mengetahui keadaan tanah itu, maka Musa mengutus keduabelas pengintai untuk menyelidiki keadaan negeri itu. Selama 40 hari, mereka pergi menyelidiki negeri itu dengan seksama. Setelah mereka selesai menyelidiki negeri itu, mereka memberi laporan kepada Musa dan bangsa itu. Kesepuluh orang itu memang pada awalnya menceritak dengan detail keadaan negeri yang diintai itu. Memang benar bahwa negeri itu berlimpah susu dan madunya, malah mereka membawa oleh-oleh berupa  setandan anggur dari  lembah Eskol, bahkan sampai dua orang yang membawa setandan buah anggur itu. Namun sayangnya, mereka justru memiliki mental pesimis dan mengatakan bahwa tidak mungkin bangsa Israel dapat melawan dan menaklukan mereka, yang dikenal memiliki perawakan tinggi besar dan kuat. Sehingga bangsa Israel diumpamakan sebagai seekor belalang dihadapan orang-orang di tanah Kanaan itu. Tak hanya itu, kesepuluh orang pengintai justru menyebarkan kabar busuk yang melemahkan mental orang Israel. Namun Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun memiliki pandangan yang lain. Mereka berdua optimis dan percaya bahwa bangsa Israel dapat menaklukan dan menduduki negeri itu oleh karena bangsa Israel memiliki TUHAN yang perkasa. Namun sayangnya, orang Israel malah justru lebih percaya kepada kesepuluh orang pengintai daripada Kaleb dan Yosua yang berusaha menentramkan bangsa itu dengan memberikan semangat optimis sehingga negeri itu dapat ditaklukan dan diduduki.
Oleh karena bangsa Israel lebih percaya kepada kabar busuk yang disampaikan oleh kesepuluh pengintai, maka bangsa itu kembali bersungut-sungut dan memberontak kepada TUHAN. Yang justru malah membawa petaka bagi bangsa itu.

Seringkali dalam kehidupan kita, ketika kita sedang menghadapi tantangan dan masalah. Kita sering merasa pesimis untuk menghadapi hal itu. Malahan kita sering mengeluh dan bersungut-sungut. Karena merasa tidak mampu, makanya timbul rasa pesimistik yang menimbulkan kita mulai tidak percaya lagi kepada Tuhan. Kita justru terbius dan terfokus kepada tantangan dan permasalahan yang sedang terjadi.
Masalah yang dihadapi oleh kesepuluh pengintai dan juga kita pada masa kini itu muncul karena cara pamdang yang salah. Mereka memamdang masalah itu dari sudut pandang manusia. Memang benar secara manusia itu rasanya tidak mungkin untuk dihadapi. Persoalan yang dihadapi oleh kesepuluh pengintai dan kita pada masa kini intinya ya sama saja. Malah yang lebih parah lagi adalah justru kita yang membesar-besarkan masalah dan tantangan yang kita hadapi. Pikiran kita justru terfokus pada permasalahan dan tantangan yang sedang kita hadapi. Rumitnya permasalahan yang terjadi sebenarnya yang membuat adalah diri kita, yaitu dengan sikap kita dalam menghadapi permasalahan dan tantangan itu sendiri.
Seperti contoh, pada saat ini kita sedang mengalami masa sukar yaitu pandemi dan juga banyak pemberitaan yang beredar. Memang menurut berita yang beredar, banyak berita yang justru terkesan seolah-olah kita diteror dengan pandemi itu. Kabar berita yang beredar cenderung memberitakan hal yang kurang baik sehingga membuat panik dan takut sebagian orang. Nah, justru inilah yang menyebabkan semakin banyaknya jatuh korban. Karena orang merasa takut dan kuatir kalau-kalau mereka terpapar dan bisa jadi mereka menjadi korban virus itu. Penyebab yang sebenarnya adalah karena pikiran kita yang menanggapi pemberitaan tentang pandemi dengan rasa takut dan kuatir akan terpapar. Justru inilah yang membuat sistem imun kita lemah, karena kita sudah berpikir negatif dengan memunculkan rasa takut dan kuatir akan terpapar virus itu.
Rasa cemas, kuatir dan takut inilah yang menyebabkan sistem imun kita lemah sehingga virus mudah menginfeksi bahkan merenggut nyawa seseorang.

Berbeda dengan kesepuluh pengintai itu, Kaleb dan Yosua memilih untuk tetap optimis bahwa bangsa Israel sanggup untuk menduduki negeri itu. Alasannya sangat mendasar dan logis. Karena mereka memiliki TUHAN Yang Maha Kuasa. Rupanya Kaleb dan Yosua belajar banyak akan pengalaman perjalanan bangsa Israel. Oleh karena pengalaman itu, membentuk sikap mental yang positif, yaitu percaya akan kuasa TUHAN dan mempercayakan diri akan janji TUHAN yang pasti digenapi. Kaleb dan Yosua percaya, dengan kuasa TUHAN pastilah bangsa itu dapat merebut tanah Kanaan. Tidak peduli seberapa besar dan kuat musuh yang dihadapi, mereka berdua percaya bahwa dengan pertolongan TUHAN pasti dapat menaklukan negeri itu. Begitupun juga kita pada saat menghapi tantangan dan permasalahan. Meski permasalahan yang kita hadapi sangat besar sehingga kita merasa tidak mampu menghadapinya, kita punya TUHAN yang besar yang mampu mengatasi sebesar apapun permasalahan yang sedang kita hadapi. Bagi kita mungkin rasanya mustahil untuk menghadapinya, namun bagi TUHAN tidak ada yang mustahil. Asalkan kita mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan memiliki sikap positif dalam menghadapi permasalahan. Kita tidak perlu takut dan kuatir pada permasalahan yang sedang terjadi. Justru biarlah rasa takut itu semakin membuat kita semakin mengandalkan Tuhan dalam menghadapi permasalahan itu. Dan juga jangan sampai kita terlalu fokus pada permasalahan yang terjadi tapi alihkan fokus kita kepada Tuhan yang sanggup menolong kita.

Permasalahan yang sedang kita hadapi juga merupakan ujian terhadap diri kita. Dalam permasalahan yang kita sedang hadapi, kita diperhadapkan kepada dua pilihan, menyikapinya secara negatif atau secara positif? Jika kita memilih untuk menyikapinya dengan negatif yaitu munculnya rasa takut dan kuatir sehingga mental dan pikiran kita menjadi negatif lalu kemudian berdampak pada sikap kita, yaitu mulai pesimis, mengeluh, bersungut-sungut, mulai menyalahkan Tuhan bahkan meninggalkan Tuhan seolah-olah membuat Tuhan merasa tidak mampu menolong kita. Pikiran kita yang negatif itulah yang menghambat kuasa Tuhan dinyatakan dalam hidup kita. Celakanya adalah justru itulah yang menjadi penghambat berkat yang sedianya dilimpahkan atas kita, lebih parahnya lagi kita malah kehilangan berkat itu. Keadaan kita malah semakin memburuk bukan malah semakin membaik. Bukti yang jelas dapat kita lihat di pasal 14 dan selanjutnya, dampaknya adalah mereka harus menerima pemghukuman yaitu berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun, dan bahkan mereka yang terlibat pemberontakan itu, yang usianya 21 tahun keatas kecuali Kaleb dan Yosua, akan mati di padang gurun sampai habis dan bahkan tidak dapat masuk dan menikmati Tanah Perjanjian itu. Sungguh mengerikan bukan?

Namun berbeda jika kita menyikapinya secara positif, seperti Kaleb dan Yosua, maka sangat  jelas sekali. Mereka lolos dari murka Allah, selamat dari penhukuman Allah. Bahkan mereka berdua adalah generasi yang diperbolehkan TUHAN masuk ke Tanah Perjanjian, dan menikmati berkat Tuhab yang luar biasa di negeri itu. Namun bukan hanya mereka berdua saja, kitapun juga demikian apabila kita mau menyikapi permasalahan dengan positif dan optimis. Tentu saja dengan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Kaleb sendiri berusaha memotivasi, oleh karena pertolongan Tuhanlah bangsa itu mampu menaklukan Tanah Perjanjian itu. Asalkan taat dan setia kepada perintahNya dan menuruti apa yang Tuhan mau dalam kehidupan kita. Dengan mempercayakan diri kepadaNya, sudah sangat jelas bahwa IA memampukan dan memberi kekuatan kepada kita dalam menghadapi permasalahan yang sedang kita hadapi. Kita tidak perlu takut dan kuatir akan permasalahan yang sedang kita hadapi, apapun itu, seberat apapun itu, sebesar apapun itu. Kita memiliki Tuhab yang sanggup menuntun dan menyertai kita dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Bersama dengan Tuhanlah, kita pasti meraskan damai sejahtera dalam menghadapi permasalahan itu. Justru kita semakin dimampukan dan diberikan kekuatan untuk dapat keluar dari permasalahan sehingga kitapun pasti akan mendapatkan berkat melimpah yang Tuhan janjikan kepada kita bahkan berkat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Luar biasa bukan?

Lalu bagaimana sikap orang percaya dalam menghadapi permasalahan dan tantangan yang sedang dihadapi?
1. Miliki sikap mental yang positif dan optimis karena Tuhan pasti menolong asalkan kita taat dan setia kepadaNya.
2. Mempercayakan diri kita kepada Tuhan sepenuhnya karena Tuhan sanggup untuk menolong kita dalam melewati dan permasalahan yang sedang terjadi.
3. Kita tidak perlu takut dan kuatir sebab bersama dengan Tuhan, kita pasti akan merasakan damai sejahtera bersama penyertaan Tuhan.
4. Buanglah pikiran-pikiran negatif yang justru malah mencelakakan kita dan kehilangan janji berkat Tuhan.

Dengan demikian, kita pasti merasakan dan menikmati berkat Tuhan yang luar biasa dan melimpah dalam kehidupan kita.
Tetap semangat dan sukses selalu. Salam sehat. Tuhan memberkati.

©Lunar Solarius
+6281230188946

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang