Oh, Betapa Baiknya Engkau, Tuhan

Oh, Betapa Baiknya Engkau, Tuhan

Merupakan hal yang wajar apabila kita mengucap syukur ketika kita mendapat berkat yang melimpah. Keadaan kita sedang baik-baik saja, kita merasakan tentram dan damai sejahtera. Hal itu adalah hal yang wajar dan biasa karena kita sedang menikmati berkat itu. Memang hal yang lumrah dan wajar.

Namun muncul pertanyaan, apakah kita hanya mengucap syukur pada saat keadaan baik saja? Lalu bagaimana jika Tuhan mengijinkan keadaan yang tidak baik itu kita alami? Apakah kita mesih mengucap syukur dan berkata, "Oh, betapa baiknya Engkau Tuhan."

Seringkali dalam kehidupan kita, kita hanya mengucap syukur dalam keadaan yang baik dan diberkati melimpah-limpah saja. Namun, pada keadaan yang tidak baik merupakan pergumulan kita untuk belajar mengucap syukur. Malah kebanyakan cenderung mengeluh dan menyalahkan keadaan. Yang lebih parah lagi adalah dalam keadaan sukar yang Tuhan ijinkan, kita malah melupakan Tuhan, meninggalkan Tuhan dan bahkan yang lebih parah adalah menyalahkan Tuhan. Tak ayal, dalam kondisi seperti ini banyak orang yang justru jatuh karena diperhadapkan keadaan yang sukar yang Tuhan ijinkan dalam kehidupan kita. Salah satu contoh yang konkret adalah kisah Ayub. Di dalam Alkitab, Ayub dikisahkan sebagai orang yang kaya raya bahkan terpandang dan terkenal. Ia mempunyai banyak harta benda yang melimpah. Namun suatu ketika, ia mengalami keadaan yang sangat sukar. Ia kehilangan harta benda bahkan anak-anaknya. Secara lahir dan batin, ia merasa terpukul bahkan terpuruk. Di tambah sikap istrinya yang semakin menambah beban mentalnya, malah dalam keadaan seperti itu, isteinya pergi meninggalkan Ayub. Belum lagi sahabat-sahabatnya yang justru mempersalahkan Ayub. Mereka berpendapat bahwa musibah yang Ayub alami adalah karena dosa dan kesalahan Ayub.

Meski demikian, kehidupan Ayub adalah saleh dan benar. Keadaan yang dialami Ayub adalah karena Tuhan ingin menguji kualitas iman Ayub yang sejati. Salah satu buktinya adalah ia tetap bersyukur dan memuliakan Tuhan. Dalam mulutnya, tak ada sepatah katapun yang buruk keluar dari lidah bibirnya. Ia tidak mau menyalahkan keadaan dan bahkan menyalahkan Tuhan. Ia tetap setia dan taat, meski dalam keadaannya yang sangat sukar seperti itu. Terlebih lagi, ia masih tetap mengucap syukur dalam keadaanya yang seperti itu.

Kisah Ayub mengajarkan banyak hal dalam kehidupan kita. Kisah Ayub bukan hanya mahakarya sastra yang agung pada jaman itu tetapi juga banyak nilai-nilai dan pelajaran yang berharga yang kita dapatkan dari kisah Ayub. Mengucap syukur bukan hanya pada saat kita memperoleh berkat yang melimpah saja atau dalan keadaan baik saja. Namun ketika kita diperhadapkan dalam situasi yang sangat sukar dan sulit sekalipun.

Contoh lain adalah ketika Rasul Paulus dipenjara karena pemberitaan Injil, ia menuliskan kepada jemaat yang ia telah rintis dan bina agar senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, baik dalam keadaan baik maupun sukar. Karena dengan kita bersyukur kepada Tuhan disaat yang sukar, tentu kita akan merasakan damai sejahtera, kebaikan dan kemurahan Tuhan dalam hidup kita. Kalau kita bersungut-sungut, mengeluh dan menyalahkan keadaan, tentunya hal itu bukannya membuat keadaan lebih baik namun sebaliknya malah memperparah keadaan. Dengan kita mengucap syukur kepada Tuhan, pasti akan merasakan damai sejahtera, berkat kemurahan dan kebaikan Tuhan. Niscaya, dengan kita bersyukur, meski dalam keadaan sukar sekalipun, Tuhan pasti akan bukakan jalan agar kita dapat keluar dari keterpurukan dan keadaan yang kurang baik.

Seperti yang terjadi pada masa sekarang, dimana saat ini adalah masa yang sukar karena pandemi yang sedang mewabah dan dampaknya bagi kehidupan kita. Justru pada saat itulah kita sedang diuji, apakah kita tetap mengucap syukur atau malah bersungut-sungut? Sesulit apapun, sesukar apapun keadaan yang kita sedang hadapi tetaplah mengucap syukur dan berkata, "Oh, betapa baiknya Engkau, Tuhan." Kita mengucap syukur bukan hanya dalam keadaan baik saja, karena itu merupakan hal yang wajar. Tetapi juga dalam keadaan yang sulit sekalipun. Justru dalam keadaan sukar seperti itu, kita bisa merasakan kebaikan dan kemurahanNya serta penyertaanNya yang luar biasa. Untuk itulah kita harus senantiasa mengucap syukur meski keadaan sukar.
Tetap semangat dan sukses selalu.
Salam sehat.
Tuhan memberkati.

©Lunar Solarius
+6281230188946

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang