Makna ungkapan "Orang yang miskin di hadapan Allah" dalam Matius 5:3
Ayat tersebut merupakan bagian dari Ucapan Bahagia dari Khotbah di atas bukit. Kalau kita perhatikan, Ucapan Bahagia diawali dengan
Matius 5:3 (TB) "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
ΜΑΤΘΑΙΟΝ 5:3 (TR1894) μακαριοι οι πτωχοι τω πνευματι οτι αυτων εστιν η βασιλεια των ουρανων
Matthew 5:3 (KJV) Blessed are the poor in spirit: for their's is the kingdom of heaven.
Matthew 5:3 (NET) “Blessed are the poor in spirit, for the kingdom of heaven belongs to them.
Matius 5:3 (TL) "Berbahagialah segala orang yang rendah hatinya, karena mereka itu yang empunya kerajaan surga.
Mateus 5:3 (JAWA81) “Rahayu wong kang mlarat ing budi, awit iku kang padha nduweni Kraton ing Swarga.
Kata yang mengawali setiap Ucapan Bahagia itu adalah
Berbahagialah (ITB, ITL)
Blessed (KJV, NET)
Rahayu (JAWA 1981)
μακαριοι (Yunani)
Istilah "μακαριοι" (makarioi) adalah kata sifat, nominatif, maskulin jamak dari kata "μακάριος" (makarios) yang artinya bisa diterjemahkan
Berbahagialah
Diberkatilah (Blessed)
Sedangkan pada ayat ini ungkapan selanjutnya yang mengikuti adalah
οι πτωχοι τω πνευματι
oi ptokoi to pneumati
orang yang miskin di hadapan Allah (ITB)
the poor in spirit (KJV, NET)
segala orang yang rendah hatinya (ITL)
Istilah "οι πτωχοι" (oi ptokoi), kata sifat, nominatif, maskulin, jamak, secara harfiah dapat diterjemahkan "orang-orang miskin" atau "orang-orang yang berkekurangan." Atau dapat dikatakan adalah golongan orang-orang yang hidupnya (secara materi) berkekurangan, bahkan hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja belum tentu bisa. Namun jika diperhatikan kata selanjutnya yang mengikuti "τω πνευματι" (to pneumanti).
τω πνευματι kata benda datif, netral, tunggal yang artinya roh, bisa juga diartikan di dalam roh, atau secara rohani.
Dengan demikian dapat diartikan adalah miskin secara rohani.
Biasanya, orang-orang yang miskin itu berkekurangan, lemah (secara ekonomi misalnya) dan membutuhkan bantuan atau uluran tangan dari orang yang mampu. Atau merasa dirinya tidak mampu. Selalu mengandalkan pertolongan dari orang lain. Merasa dirinya tidak berdaya. Biasanya juga dianalogikan dengan pengemis, yaitu meminta-minta pertolongan atau bantuan orang lain.
Secara rohani (sebagai perenungan) dapat kita maknai sebagai berikut
Sesuai dengan uraian dan pengertian di atas bahwa orang-orang yang miskin secara rohani, sangatlah membutuhkan dan mengandalkan pertolongan atau bantuan dari Tuhan. Menyadari bahwa dirinya lemah dan tidak berdaya di hadapan Tuhan. Sikap yang seperti inilah yang seharusnya kita miliki. Kita juga harus menyadari bahwa sebagai manusia yang lemah dan tidak berdaya. Sebagai contoh adalah raja Daud, yang kehidupannya senantiasa mengandalkan pertolongan Tuhan. Miskin di sini bukan berarti secara jasmani namun rohani. Kehidupan rohani yang senantiasa berharap dan berserah pada Tuhan. Miskin di sini juga dapat diartikan dengan sikap ketidakberdayaan kita di hadapan Tuhan. Dengan kata lain sikap merendahkan diri atau rendah hati. Kitapun juga harus menyadari bahwasanya kita ini tidak berdaya atau tidak sanggup (lemah) bila tanpa pertolongan Tuhan. Maka dari itu hal pertama yang Tuhan Yesus mau sampaikan adalah penghiburan bagi orang-orang yang miskin (rendah hati, lemah, tidak berdaya, tidak mampu, serba berkekurangan secara rohani) yang senantiasa membutuhkan pertolongan dan uluran tangan Tuhan yang menopang kita. Untuk itu, yang merasa miskin (baik secara jasmani dan rohani) baiklah kita senantiasa untuk terus berharap pada Tuhan. Sebab pastilah Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita baik rohani maupun jasmani. Yaitu dengan sikap rendah hati, tidak berdaya, tidak mampu, lemah, berkekurangan dan selalu membutuhkan pertolongan dari Tuhan. Marilah kita senantiasa mengandalkan pertolongan Tuhan.
Tetap semangat dan sukses selalu. Salam sehat. Tuhan memberkati.
©Lunar Solarius™
+6281230188946
Open Donasi:
No. Rek. BCA 1772006963
a/n Samuel Agus Setiyono
Comments
Post a Comment