Kisah Lelaki Tua dan Anak Semata Wayangnya

 Setelah mendengar hal itu, lelaki tua itu hanya bisa terdiam. Hatinya sedang berkecamuk. Bagaimana tidak, lelaki tua itu harus mempersembahkan anaknya satu-satunya itu yang ia ridukan setelah sekian puluh tahun. Dan ia sangat berharap bahwa anaknya itu akan menjadi ahli warisnya kelak.


Dalam perenungannya, sang anak datang menghampiri bapanya itu.

"Bapa kenapa?", tanya anak itu.

"Ah, tidak. Besok kita akan ke gunung itu untuk mempersembakan korban. Bersiap-siaplah, aku bersama engkau akan naik ke gunung itu." jawab bapanya.

"Ya, bapa." kata anak itu tanpa mengerti maksudnya.


Keeseokan hari, pagi-pagi benar, mereka berangkat menuju gunung itu untuk mempersembahkan korban bagi Tuhan. Mereka membawa semau perlengkapan yang dibutuhkan dan berangkatlah mereka.


Dalam perjalanan meteka, sang anak bertanya,

"Bapa, kita sudah mempersiapkan semuanya. Namun bagaimana dengan kambing domba yang akan kita persembahkan?"

"Ya, nanti Tuhan sediakan." jawab sang bapa yang berusaha tenang.

Meski sebenarnya hatinya sedang bergumul. Namun ia berusaha tetap menunjukkan sikap tenang. 


Ya, lelaki tua itu disuruh untuk mengorbankan anaknya satu-satunya sebagai korban persembahan. Namun ia menilih untuk taat dalam menjalankan perintah itu. Padahal ia sangat berharap kelak suatu saat akan mempunyai anak kandung, meski di usianya yang senja. Ia dengan setia tetap berharap kepada Tuhan dan taat mengikuti perintahNya, termasuk ia pergi dari rumah kelahirannya menuju ke negeri yang dijanjikanNya. Namun, ia tetap taat dan mempercayakan dirinya kepada Tuhan. Ia tetap taat melaksanakan perintah tersebut.


Sesampainya di gunung itu, ia mendirikan mezbah dan mempersiapkan untuk mempersembahkan korban. Tanpa ada keraguan, ia mengikat tangan anaknya itu dan membaringkan di atas mezbah. Lalu dengan sebilah pisau, ia hendak menyembelih anaknya untuk dijadikan koran.


Kenudiaan, tiba-tiba datang suara dari langit katanya,

Abraham, Abraham, jangan kau apa-apakan anak itu. Sebab telah Kulihat bukti ketaatanmu dengan tidak segan-segan menjadikan anakmu sebagai persembahan korban."

Lalu lelaki tua itu mengurungkan niatnya itu dan melepaskan anak itu. Lelaki tua memendang sekelilingnya, ternyata ada kambing domba yang sedang tersangkut. Kemudia ia mengambil kambing domba itu dan mempersembahkannya sebagai korban persembahan.


Lalu terdengar lagi suara dari langit,

"Karena engkau telah memilih untuk taat, dengan mempersembahkan anakmu satu-satunya. Maka Aku memperhitungkan sebagai suatu kebenaran karena imanmu. Maka Aku akan memberkatimu dengan kelimpahan berkat dan memiliki anak cucu untuk negeri yang telah Kujanjikan."


Mendengar hal itu, lelaki itu hanya bisa terdiam. Lalu pulanglah mereka.


©Lunar Solarius

+6381230188946

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang