Kisah Kesaksian Penulis-Kuasa Tuhan yang Membuat Penulis Kembali Melihat
Sebuah Kesaksian dari Penulis
Pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan kesaksian akan kebaikan Tuhan.
Pada sekitar tahun 2014, saya (penulis) sudah mulai ada tanda-tanda Diabetes Melitua Type 1. Waktu itu, saya masih berada di Kota Semarang. Sebelumnya, saya meresakan hal yang biasa saja. Lalu suatu kali, ada teman kost yang menegur saya karena di toilet sering kali semut sehabis saya buang hajat. Awalnya saya tidak paham apa yang telah terjadi pada saya. Hingga suatu ketika saya merasa sangat haus dan sering minun. Tak hanya itu, nafsu makan saya meningkat drastis hingga kelihatannya seperti orang rakus. Namun demikian, saya tidak merasa kenyang lalu malah badan saya menjadi kurus.
Hingga akhirnya saya sempat tinggal di Salatiga. Di kota itulah baru saya paham bahwa gula darah saya sangatlah tinggi dan keadaan mulai parah karena saya sering bolak-balik ke toilet. Tak hanya itu, nafsu makan saya semakin menggila namun tidak menjadi tenaga, malah semakin bertambah kurus. Yang lebih parahnya lagi, saya malah merepotkan orang lain.
Lalu saya memutuskan untuk menyusul ibu saya, yang waktu itu ada di Rembang. Setelah diperiksakan ibu saya, ternyata memang benar bahwa saya mengidap Diabetes Melitus. Lalu kami memutuskan untuk ke Boyolali.
Namun, keadaan saya semakin parah ketika saya memutuskan ke Yogyakarta untuk bekerja. Dari situlah, kedua mata saya mulai mengalami seperti katarak dan hampir tidak bisa melihat. Waktu itu masih bisa melihat walaupun hanya remang-remang cahaya dan tidak begitu jelas. Karena gula darah yang semakin meniggi hingga 800. Kemudian, saya memutuskan untuk pulang ke Boyolali. Perjalanan pulang itupun juga mengalami tantangan. Teman saya, waktu itu, hanya memberikan ongkos sampai Kartosura saja. Dari Kartosura hingga Boyolali (Tlatar), saya berjuang dengan berjalan kaki tengah malam hingga pagi, hanya bermodalkan keberanian dan lampu yang sinarnya masih dapat saya lihat walau kurang begitu jelas. Hingga ada orang yang menawarkan tumpangan hingga sampai ke Tlatar, Boyolali.
Sesampainya di sana, jujur saya tidak mengetahui ekspresi ibu saya waktu itu. Karena pandangan sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Waktu itu, ibu saya meneteskan air mata melihat keadaan saya. Namun benerapa waktu kemudian, karena beberapa pertimbangan, saya kembali ke rumah peninggalan almarhum ayah saya di Dusun Jangkrikan, Desa Rogomulya, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, yang letaknya tidak jauh dari tempat ibu saya waktu itu. Di rumah itulah, saya mulai banyak merenung. Penyesalan demi penyesalan timbul dari hati saya, dan saya memohon ampun kepada Tuhan.
Saya seringkali meninggalkan rumah, berjalan menggunakan tongkat menuju kemana saja yang saya mau dan berharap apabila nanti saya bisa mati di jalan. Karena sebenarnya saya sudah sangat frustasi dengan keadaan saya yang seperti itu. Namun disitulah penyertaan dan pemeliharaan Tuhan yang luar biasa, saya rasakan. Hingga sekarang saya masih ada karena kemurahan dam penyertaan Tuhan.
Tantangan yang saya hadapi waktu itu sangatlah berat. Waktu itu banyak orang yang menanggap bahwa saya tidak akan sembuh, saya tidak akan bisa melihat normal lagi. Dengan kata lain, saya akan buta seumur hidup. Belum lagi tantangan lain yang harus saya hadapi adalah saya diminta untuk beralih keyakinan, karena mereka menaggap bahwa Tuhan yang saya sembah itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap diri saya.
Namun, saya tetap berpegang teguh pada keyakinan saya. Bahwa suatu saat saya pasti sembuh dan melihat seperti sediakala. Dan keyakinan saya itu benar saja. Waktu itu sekitar bulan Desember 2015, saya sedang berjalan seperti biasa. Lalu saya mendengar seseorang memanggil saya. Karena saya tidak bisa melihat, kalau saya tidak dipamggil maka saya tidak akan menyimpang.
Mendengar panggilan itu, saya menyimpang dan menuju asal suara yang memanggil saya. Kemudian saya dipersilahkan duduk dan ditanyai dengan beberapa pertanyaan. Orang itu bertanya kepada saya, darimana dan mau kemana dan saya jawab. Selanjutnya beliau menawarkan diri untuk mendoakan saya agar saya sembuh. Waktu itu setelah didoakan sekali, beliau bertanya apakah saya sudah bisa melihat. Lalu saya katakan belum. Untuk kedua dan ketiga kalinya saya didoakan kembali dan bertanya hal yang sama. Dan saya menjawab hal yang sama pula. Namun itulah awal titik tolak dari kesembuhan kedua mata saya.
Beberapa waktu kemudian, sayapun diajak pelayanan kembali.
Seperti biasa, setiap bulan saya kontrol di rumah sakit untuk diabetes melitus. Entah kebetulan atau memang rencana Tuhan, saya bertanya kepada dokter spesialis penyakit dalam yang menangani saya perihal kedua mata saya. Lalu sang dokter itu menjawab bahwa harus dirujuk ke poli mata. Lalu dari poli mata, saya dirujuk ke Rumah Sakit Kasih Ibu yang berada di Jl. Slamet Riyadi, Solo.
Mereaponi hal itu, saya segera menghubungi ibu saya agar mengantar saya ke RS Kasih Ibu. Di rumah sakit itulah, saya ditangani dengan baik dan menjalani operasi kedua mata saya. Ini pergumulan saya, karena seumur hidup baru kali ini saya harus menjalani operasi dan kebetulan gula darah saya waktu itu normal. Pada saat menjelang operasi, saya hanya bisa berdoa dan berserah kepada Tuhan agar proses operasi berjalan dengan lancar dan berhasil. Puji Tuhan, operasi berjalan dengan lancar dan berhasil oleh karena pertolongan Tuhan hingga saya benar-benar bisa kembali melihat. Itu semua berkat campur tangan kuasa Tuhan, sebab jika gagal resikonya adalah saya buta seumur hidup. Bagi saya ini adalah mujizat dan cara Tuhan untuk menyembuhkan saya melalui cara medis yang sebenarnya tidak mungkin dan jika gagal, maka saya pasti akan buta seumur hidup.
Tapi puji Tuhan, hingga saat ini saya bisa kembali melihat oleh karena Tuhan. Saya sangat bersyukur sekali, sebab ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya untuk tetap terus berkarya bagi kemuliaanNya. Anugerah yang luar biasa yang Tuhan telah berikan kepada saya. Dan saya berusaha semampu saya memanfaatkan kesempatan ini untuk berkarya memuliakan Tuhan meski akan ada tantangan kedepan yang harus saya hadapi dan mengalami jatuh bangun.
Namun, terlepas itu semua, saya sangat bersyukur karena saya sudah kembali melihat pada bulan Januari 2016, 16 bulan lamanya saya tidak melihat keindahan dunia dan hanya sebatas mendengar saja. 16 bulan juga banyak pengalaman yang saya alami bersama dengan Tuhan, karena Tuhan senantiasa menyertai kita.
Semoga kisah kesaksian ini bisa menjadi berkat untuk kita semua bahwa kita yakin dan percaya akan penyertaan Tuhan. Seberat apapun tantangan dan ujian yang kita hadapi, percayalah bahwa Tuhan adalah immanuel, selalu beserta dengan kita. Memberikan kekuatan dalan menghadapi tantangan dan ujian, selain itu juga memberikan damai sejahtera agar pikiran kita selalu tetap tenang dalam menghadapi masalah, tantangan dan ujian, sesulit dan sesukar apapu itu. Karena kuasa Tuhan jauh lebih besar daripada masalah yang kita hadapi. Kiranya kesaksian saya ini menjadi berkat untuk kita agar senantias mengandalkan Tuhan yang immanuel, yang senantiasa menyertai kita.
Tetap semangat dan sukses selalu. Salam sehat. Tuhan Yesus memberkati.
©Lunar Solarius
+6281230188946
Comments
Post a Comment