Ketika Kita Mulai Takabur

Ketika Kita Mulai Takabur

2 Raja-raja 20:19

Raja Hizkia memerintah Ywhuda, ia adalah raja yang berkenan di hadapan Tuhan. Sehingga Tuhan menyertainya dan membuatnya berhasil. Ia sempat jatuh sakit dan hampir meninggal, namun karena hidupnya berkenan di hadapan Tuhan. Ia beroleh kesembuhan bahkan usianya diperpanjang. Lalu pada saat Yehuda dikepung oleh Sanherib, ia bersujud dan merendahkan diri bersama seluruh bangsa itu memohon pertolongan Tuhan. Dan Tuhan meluputkan bangsa itu dari ancaman Sanherib.
Pada suatu ketika, datanglah para utusan dari Babel. Dengan tangan terbuka, raja Hizkia menyambut mereka. Dengan tak sungkan-sungkan, ia memamrwkan seluruh isi istana tanpa kecuali. Ia belum menyadaei bahwa para utusan itu sedang mengintai Yehuda.
Rupanya hal itu merupakan suatu hal yang tidak berkenan bagi Tuhan, sehingga melalui nabi Yesaya, raja Hizkia ditegur. Secara lahiriah, memang raja Hizkia menganggap itu merupakan hal baik. Namun dalam hatinya berbeda dengan yang diucapkannya, yang justru membuat raja Hizkia takabur dan menimbulkan kesomobongan. Ia merasa bahwa selama ada dirinya, kerajaan Yehuda senantiasa akan tenteram dan mulai melupakan bagaimana campur tangan Tuhan atas keamanan dan kedamaian kerajaan itu. Ia mulai merasa kalau selama ada dirinya, pastilah negeri itu aman. Ia tidak berpikir kedepan mengenai dampak yang terjadi akibat perbuatannya itu. Kelihatannya sepele namun berdampak fatal.
Demikian juga dalam kehidupa kita. Sering kali ketika dalam menghadapi masalah pergumulan, kita selalu memohon pertolongan Tuhan. Dalam keadaan terdesak, Tuhan selalu menolong kita. Tuhan yang menopang dan mengangkat kehidupan kita. Tuhan yang memberi kelimpahan berkat dan memberikan damai sejahtera.
Atau mungkin dari awal, kita sungguh taat dan setia dalam mengikut Tuhan. Sehingga Tuhan mengaruniakan banyak anugerah yang kita rasakan dan nikmati.
Namun ketika kita berada dalam keadaan yang baik, kita mulai merasa bahwa semua pencapaian itu adalah hasil usahanya sendiri dan mulai melupakan bagaiman Tuhan turut serta dalam proses pencapaian itu. Di saat dalam kesulitan dan kesukaran yang pernah kita hadapi, Tuhan senantiasa menolong kita. Namun ketika kita mencapai pencapaian itu, yaitu keberhasilan dan kesuksesan yang kita raih, kita mulai keblinger dan takabur dengan keadaan baik itu. Seolah-olah kita datang kepada Tuhan di saat kita hanya butuh saja, di saat kita hanya minta tolong saja. Sedangkan di saat kondisi kita membaik, kita merasa itu semua karena diri kita sendiri. Kita merasa itu semua karena kemampuan usaha sendiri sehingga melupakan kebaikan Tuhan pada saat keadaan kita sulit.
Maka dari itu, mari kita tetap senantiasa mengingat kebaikan Tuhan. Baik dalam keadaan sukar maupun keadaan baik. Karena itu semua bisa terjadi karena campur tangan Tuhan. Jangan takabur dan sombong karena hasil pencapaian keberhasilan itu. Karena tidak mungkin kita bisa melewati proses itu dan memperoleh pencapaian itu jika bukan karena campur tangan pertolongan Tuhan. Jangan merasa jika keadaan kita baik nantinya akan tetap baik terus, bisa jadi justru sikao kita seperti itu malah berdampak buruk bagi kedepannya nanti. Mungkin saat ini bukan kita yang akan merasakan dampaknya, tapi mungkin keturunan kita yang justru terdampak oleh sikap kita.
Tetap semangat dan sukses selalu. Salam sehat. Tuhan memberkati.

©Lunar Solarius
+6281230188946

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang