Jadilah Kuat dan Pemberani
Yosua 1:6-7
6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.
7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.
Tentu bukan perkara yang mudah bagi Yosua untuk memimpin bangsa Israel ke tanah perjanjian itu. Beban mental tentu sangatlah berat, dan juga mengingat pengalaman yang terjadi sepanjang perjalanan di padang gurun.
Namun Tuhan memberikan janji penyertaan kepada Yosua. Tak hanya janji penyertaan saja, bahkan Tuhan memberi perintah agar "kuatkanlah dan teguhkanlah hati."
יהושע 1:6-7
6 חֲזַק וֶאֱמָץ כִּי אַתָּה תַּנְחִיל אֶת־הָעָם הַזֶּה אֶת־הָאָרֶץ אֲשֶׁר־נִשְׁבַּעְתִּי לַאֲבֹותָם לָתֵת לָהֶם׃
7 רַק חֲזַק וֶאֱמַץ מְאֹד לִשְׁמֹר לַעֲשֹׂות כְּכָל־הַתֹּורָה אֲשֶׁר צִוְּךָ מֹשֶׁה עַבְדִּי אַל־תָּסוּר מִמֶּנּוּ יָמִין וּשְׂמֹאול לְמַעַן תַּשְׂכִּיל בְּכֹל אֲשֶׁר תֵּלֵךְ׃
Yosua 1:6-7
6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.
7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.
Perhatikanlah frasa kata "kuatkanlah dan teguhkanlah," dalam bahasa aslinya, חֲזַ֨ק (ḥă·zaq) yang artinya "jadilah kuat" (bahasa Inggris : be strong) - Qal, Imperfek, Maskulin, Tunggal. Dan וֶֽאֱמַ֜ץ (we·’ĕ·maṣ), Qal, Imperfek, Maskulin, Tunggal, yang dapat diartikan "berani - keberanian."
Perhatikan bahwa kedua kata kerja tersebut menggunakan stem Qal, dan menggunakan tensis Imperfek. Artinya bahwa tindakan itu sedang berlangsung. Kalau diterjemahkan secara harfiah adalah "jadilah kuat dan berani." Jika melihat konteksnya adalah dapat artikan bahwa Yosua harus menjadi kuat dan berani, secara mental dan spiritual. Hal itu dilandasi oleh karena penyertaan Tuhan dan berpegang teguh pada perintahNya.
".....Kuatkan dan teguhkanlah hatimu....." (6-9). Dan tiap kali Allah mengatakan hal ini, Ia juga memberi alasan mengapa Yosua harus kuat yaitu karena kuasa Allah dan jaminan kemenangan-Nya. (© Santapan Harian, 09 Juli 2011).
6. Kuatkan dan teguhkan hatimu (bdg. 1:7a, 9). Perintah Allah yang kedua merupakan perintah yang sangat diperlukan seorang panglima pasukan yang akan maju berperang. LXX: Bertindaklah jantan seperti layaknya laki-laki. Sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan. Perintah Allah yang ketiga kepada Yosua. Kanaan dijanjikan oleh Allah di dalam perjanjian dengan Abraham (Kej. 15:16-21). (© Wycliffe Bible Commentary).
Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendukung agar Yosua senantiasa menjadi kuat dan berani. Pertama, kepemimpinan Yosua harus berasal dari inisiatif Allah sendiri: Allah yang memiliki rencana, maka Allah pula yang berhak menetapkan siapa dan bagaimana penggenapannya. Kedua, Yosua harus merespons panggilan kepemimpinan itu secara konkret dan proaktif: ia harus melangkahkan kaki sejauh wilayah yang Allah berikan kepada Israel. Ketiga, Yosua harus mengembangkan karakter mental baja dalam merespons janji Tuhan ini: pemimpin yang bimbang sama saja tidak percaya kepada Tuhan. Keempat, Yosua harus berpegang penuh pada janji firman Tuhan dan taat total pada perintah-Nya: pemimpin harus kenal dan bergaul dengan firman-Nya dan melakukan firman itu dengan segenap hati. (© Santapan Harian, 14 Juli 2006).
Demikian juga dalam kehidupan kita sebagai orang percaya masa kini. Tentunya kitapun juga harus mempunyai sikap mental dan spiritual yang demikian, terutama dalam menghadapi permasalahan. Yosua bukan hanya menghadapi masalah kepemimpinan dirinya sendiri, tetapi juga masalah dalam memimpin bangsa itu. Terlebih lagi juga harus menghadapi tantangan ketika harus menghadapi bangsa-bangsa lain yang diam di tanah perjanjian itu. Sangatlah jelas diperlukan sikap mental dan spiritual yang kuat dan berani. Dalam hal ini, sekali lagi, sangatlah jelas bahwa kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan dan permasalahan adalah penyertaan Tuhan dan juga sikap mental yang kuat dan berani. Tanpa kedua hal tersebut justru membuat kita gagal dalam menghadapi permasalahan.
Dengan demikian, dengan mengandalkan penyertaan Tuhan yang disertai sikap mental kuat dan berani, niscaya setiap tantangan, permasalahan dan pergumulan pasti akan terselesaikan dan terlewati dengan baik.
(Bersambung...)
Sumber Refrensi:
© Santapan Harian, 14 Juli 2006
© Santapan Harian, 09 Juli 2011
© Wycliffe Bible Commentary
©Lunar Solarius™
+6281230188946
Comments
Post a Comment