Belajar dari Nuh

Belajar dari Kehidupan Nuh
Kejadian 6:7-9

Keadaan dunia pada saat itu penuh dengan kejahatan dan kebrobokan moral. Tentu saja keadaan yang sedemikan juga berdampak bagi setiap aspek kehidupan manusia pada jaman itu. Manusia pada jaman itu juga mengalami keadaan yang sangat sulit dalam menjalani kehidupan mereka oleh karena kejahatan dan kebrobokan moral yang terjadi pada waktu itu. Tentu saja hal itu membuat Tuhan menyesal dan hendak menghapuskan semua makhluk yang hidup pada jaman itu dengan air bah.

Riwayat tentang Nuh memberikan suatu gambaran tentang keadaan yang jauh lebih parah dalam pemandangan Tuhan. Tuhan mendapati bahwa bumi telah rusak, penuh dengan kekerasan dan semua manusia pun telah rusak. Padahal pada waktu Allah menciptakan bumi ini, Ia menjadikan segala sesuatunya sungguh amat baik (Kej. 1:31). Akan tetapi, di tengah-tengah kebobrokan tersebut Allah masih mendapati Nuh sebagai pribadi yang saleh dan tidak bercela di hadapan-Nya (9). Di tengah kefasikan dan kejahatan yang merajalela ketika itu (ayat Kej 6:5), Allah menemukan dalam diri Nuh seorang yang benar dan yang masih berusaha untuk berhubungan dengan-Nya.

Walaupun Allah murka dengan semua yang lain di dunia, Ia berkenan kepada Nuh: Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN (ay. 8).

בראשית 6:8  וְנֹחַ מָצָא חֵן בְּעֵינֵי יְהוָה׃ פ

Hal ini membenarkan keadilan Allah dalam murka-Nya terhadap dunia, dan menunjukkan bahwa Ia sudah secara ketat memeriksa sifat setiap orang yang ada di dalamnya sebelum menyatakan seluruhnya rusak. Sebab, dengan adanya satu orang baik, Ia menemukannya, dan tersenyum kepadanya. Itu juga mengagungkan anugerah-Nya terhadap Nuh, bahwa ia dijadikan sebagai bejana bagi belas kasihan Allah, sementara semua umat manusia yang lain telah menjadi angkatan yang dimurkai-Nya. Begitulah, karunia-karunia yang istimewa membawa serta kewajiban-kewajiban yang besar secara khusus. Mungkin Nuh tidak berkenan di mata manusia. Mereka membenci dan menganiaya dia, karena baik dengan hidup maupun pemberitaannya ia menghukum dunia. Tetapi ia mendapat kasih karunia di mata TUHAN, dan ini pun sudah cukup untuk memberikannya kehormatan dan penghiburan. Allah membuat catatan lebih banyak tentang Nuh daripada tentang semua yang lain di dunia, dan ini membuatnya lebih besar dan benar-benar lebih terhormat daripada semua orang raksasa yang ada pada masa itu, yang menjadi orang-orang gagah perkasa dan orang-orang kenamaan. Biarlah hal ini menjadi puncak dari ambisi kita, yaitu untuk mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Orang yang sangat dikenan adalah orang yang dikenan oleh Allah. Kesalehannya yang istimewa sehingga dia memenuhi syarat untuk menerima satu-satunya pertanda dari kasih setia Allah. Orang yang ingin mendapat kasih karunia di mata Tuhan harus menjadi seperti Nuh dan berbuat seperti Nuh.

9. Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela ... dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

בראשית 6:9  אֵלֶּה תֹּולְדֹת נֹחַ נֹחַ אִישׁ צַדִּיק תָּמִים הָיָה בְּדֹרֹתָיו אֶת־הָאֱלֹהִים הִתְהַלֶּךְ־נֹחַ׃

Dengan kata-kata ini penulis melukiskan tiga ciri khas dari kehidupan saleh - adil, suci dan kudus (bdg. 6:8 - Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan).

Dua kata-kata penjelasan ini sangatlah penting. Yang pertama mengisyaratkan bahwa Nuh memenuhi tolok ukur pemahamannya mengenai kehendak Allah. Kata yang diterjemahkan menjadi benar dari kata Ibrani sáddîq, melukiskan watak Nuh yang tampak dalam hubungannya dengan sesama manusia. "Kejujuran" atau "kebenaran" tampak jelas dalam perilakunya. Seluruh tindak-tanduknya menunjukkan kebenaran etika dan moral ini. Kata Ibrani tãmîm, tidak bercela, melukiskan hasil sempurna dari seorang tukang bangunan yang handal; bangunan yang dihasilkan itu lengkap, sempurna dan tidak ada cacatnya. Ditinjau secara obyektif, kata tidak bercacat melukiskan watak. Di dalam bidang etika, ide "jujur" muncul sebagai pengertian yang diambil. Pernyataan bahwa Nuh hidup bergaul dengan Allah, membuka pokok pemikiran yang lain.

Nuh itu hidup bergaul dengan Allah" Ini (BDB 229, KB 246, Hithpael PERFECT) adalah frasa yang sangat serupa dengan Kej 5:21-22 (Hithpael IMPERFECT) di mana frasanya digunakan untuk Henokh. Di dalam bergaul dengan Allah, Nuh menunjukkan sikap, semangat dan watak yang membuat dirinya diterima dan diperkenan untuk hubungan rohani yang sangat akrab. Nuh memiliki ciri-ciri jiwa yang membuat dia disayang oleh Tuhan.

"Tidak bercela di antara orang-orang sezamannya" menunjukkan bahwa dia memisahkan diri dari kejahatan moral masyarakat di sekitarnya. Karena dia adalah orang benar yang takut akan Allah dan tidak menyetujui pandangan dan kelakuan umum yang populer, Nuh berkenan kepada Allah (ayat Kej 6:8; 7:1). Kebenaran dalam hidup Nuh ini dihasilkan oleh kasih karunia Allah, oleh iman Nuh dan pergaulannya dengan Allah (ayat Kej 6:9).
Ini sesuatu yang sungguh luar biasa. Meskipun Nuh hidup di tengah generasi yang penuh kebobrokan dan kejahatan di mata Tuhan, tetapi Ia masih mendapati Nuh sebagai pribadi yang tidak terkontaminasi oleh zaman. Ternyata hal ini bisa terjadi karena sepanjang perjalanan hidupnya, Nuh selalu bergaul dengan Allah. Ia menjalani hidup dengan selalu bersekutu dengan Tuhan dan menaati firman-Nya. Sama seperti Henokh, Nuh selalu berjalan dengan Allah di sepanjang hidupnya (bdk. Kej. 5:22).

Belajar dari kehidupan Nuh, yang mana ia tetap menjaga agar hidupnya berkenan kepada Tuhan dan senantiasa bergaul erat dengan Tuhan sehingga Nuh mendapatkan kasih karunia Tuhan. Nuh seorang yg benar (Kej 6:9, tsaddiq), yg memiliki kebenaran itu yg bersumber dari iman (Ibr 11:7, he kata pistin dikaiosyne, harfiah 'kebenaran sesuai dengan iman'), dan mempunyai persekutuan dengan Allah, seperti dinyatakan oleh uraian 'dia hidup bergaul dengan Allah' (Kej 6:9). Dia juga digambarkan sebagai seorang 'yg tidak bercela di antara orang-orang sezamannya' (Kej 6:9) yg telah terbenam dalam taraf hidup moral yg sangat rendah dan kepada mereka dia memberitakan kebenaran.

Sumber refrensi:
Alkitab Terjemahan Baru ©1974 - Lembaga Alkitab Indonesia.
Alkitab Full Life.
Aplikasi Alkitab untuk Android, ©Sabda
Bob Utlley Commentary: Genesis 6
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II: M-Z.
Matthew Henry Commentary: Genesis 6.
Renungan Santapan Harian ©Sabda.
Tafsiran Alkitab Wycliffe

Disclaimer: sebagai catatan, bahwa penulis blog ini hanya mengambil refrensi dari beberapa sumber di atas dan  hanya mengadakan perubahan sedikit untuk menyesuaikan peredekasian saja tanpa bermaksud mengubah pokok utamanya darinpenulis asli. Sumber refrensi atau tulisan asli adalah sepenuhnya hak cipta kekayaan intelektual penulis asli).

Tetap semangat dan sukses selalu. Salam sehat. Tuhan memberkati.

Lunar Solerius™
+6281230188946

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang