Belajar dari Ayub
2A. Kesalehan Ayub dibuktikan (1:6 – 2:10)
1B. Ujian Pertama: Apakah Ayub setia kepada Allah hanya sebab ia diberkati secara jasmani? (1:6-22)
1C. Mengapa Ayub saleh: Apakah pengabdian kepada TUHAN yang utama dalam kehidupannya, atau dasar kesalehannya ialah supaya diberkati secara jasmani? (1:6-11)
1D. Pertemuan di antara TUHAN dan Iblis (1:6-7)
- Siapa “anak-anak Allah”?
- Iblis
2D. Perkataan TUHAN: Perhatikanlah Ayub, seorang saleh (1:8)
3D. Tuntutan Iblis: Berkat-berkat Tuhan adalah dasar kesalehannya
(1:9-11)
2C. Ujian: Harta dan anak-anak Ayub dibinasakan (1:12-19)
1D. Izin diberikan oleh TUHAN untuk menguji Ayub (1:12)
2D. Kekayaan Ayub dibinasakan (1:13-19)
Apa yang diajar mengenai kuasa Iblis?
3C. Hasil: Ayub tetap dalam kesalehannya (1:20-22)
1D. Ayub sujud menyembah di hadapan Allah (1:20)
2D. Mengaku kedaulatan Allah (1:21)
3D. Penilaian Ayub: Ia tidak berdosa (1:22)
Kunci untuk mengerti masalah ini adalah bahwa Ayub berusaha untuk mengatakan apa yang benar (6:25). Karena itu, Ayub dengan bebas mengeluarkan perasaan hatinya, bahwa dia mencurigai kebaikan Allah kepada dia, dan lain-lain. Tetapi pada akhirnya, Ayub dibenarkan karena Tuhan berkata Ayub “berkata benar” dan teman-temannya tidak berkata benar (42:7-8). Tuhan akan sabar dengan orang yang sungguh mencarinya dalam kesusahan.
Kitab Ayub - Masalah Khusus
Sampai saat ini tuntutan Iblis ternyata salah sebab Ayub belum “mengutuk Allah.” Berkat-berkat Allah serta kesehatan bukan yang menjadi dasar kesetiaan Ayub. Kehadiran Allah sendiri cukup bagi Ayub.
Tetapi Ayub sama sekali tidah tahu mengapa semua penderitaan itu menimpanya. Pendapat menurut hikmat yang umum pada masa Ayub ialah penderitaan adalah hasil dosa. Jadi, Ayub bersama teman-temannya bergumul untuk coba mengerti mengapa Ayub menderita.
Comments
Post a Comment