Bangkit dari Keterpurukan
Renungan Singkat
Selasa, 24 November 2020
Bangkit dari Keterpurukan
1 Korintus 10-12
Pendahuluan
Jika melihat situasi dan kondisi saat ini, banyak orang yang mengalami keterpurukan akibat dampak dari pandemi yang sedang melanda di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Banyak sektor yang terdampak pandemi ini, bukan hanya dalam kesehatan, namun juga ekonomi, dan sosial. Namun kita sebagai orang percaya harus bisa bangkit dari keterpurukan. Bagaimana caranya agar kita bisa bangkit dari keterpurukan yang kita hadapi pada saat ini?
1. Belajar dan mengevaluasi dari masa lalu (Pasal 10)
Dalam pasal 10 ini, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus tentang masa lalu dari Bangsa Israel. Ketika Allah membebaskan dan menuntun umatNya dari tanah Mesir menuju ke Tanah Perjanjian, bangsa Israel justru malah memberontak. Padahal dalam perjalanannya, mereka diperlihara oleh Tuhan secara luar biasa. Oleh karena ketidaktaatan mereka inilah yang menyebabkan Allah mendisiplin umatNya. Itulah sebabnya kitapun juga harus belajar dan mengevaluasi masa lalu kita, dalam artian secara positif, agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan hal ini akan membuat kita semakin termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan yang kita alami. Dari kesalahan yang telah dilakukan masa lalu itulah yang membuat kita semakin berkembang. Misalnya saja, ada sebuah pabrikan sepeda motor yang mengembangkan produknya yang nantinya akan dijual di pasaran. Setiap purwarupa (prototype) yang dibuat tentunya mengalami perbaikan, evaluasi dan pengembangan sehingga akan dicapai suatu produk yang layak untuk dipasarkan kelak. Pastinya harus mengalami proses yang cukup panjang dalam mengembangkan suatu mesin sepeda motor. Apabila terjadi kegagalan dalam pengembangan tersebut, maka harus dievaluasi dan diadakan perbaikan serta pengembangan sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. Kita sebagai orang percaya, tentunya harus demikian, maksudnya adalah kitapun juga harus bisa belajar dan mengevaluasi dari apa yang telah terjadi, yang mungkin juga bisa jadi membuat kita terpuruk. Agar kita sebagai anak-anak Tuhan dapat berdampak bagi lingkungan sekitar kita.
2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diperbuat (Pasal 11)
Kembali Rasul Paulus mengingatkan akan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh beberapa orang jemaat di Korintus. Pada ayat 1, Rasul Paulus mengingatkan agar senantiasa menjadi pengikut Kristus dan di ayat 2 Paulus salut kepada mereka yang berpegang teguh pada ajaran Kristus. Namun selanjutnya Rasul Paulus memberikan suatu tegoran kepada mereka. Suatu tegoran yang sangat keras. Di sini Paulus menyoroti beberapa masalah yang sangat penting. Ada banyak kesalahan yang dilakukan beberapa anggota jemaat Korintus ini. Tujuan dari tegoran ini adalah supaya mereka dapat bertobat dan memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka kembali ke jalan yang benar. Demikian pula dalam setiap kehidupan kita, memang manusia itu tidak bisa luput dari kesalahn. Namun itu tergantung bagimana kita mau memperbaiki setiap kesalahan yang kita perbuat bahkan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Apabila kita terus menerus terjebak dalam suatu siklus dimana kita berputar-putar membuat kesalahan terus menerus tanpa ada keinginan untuk memperbaiki, jangan harap kita bisa berkembang dan maju. Kita harus mau keluar dari siklus tersebut dan memperbaiki kesalahan yang kita perbuat. Apalagi bila ada orang yang menegor kita oleh karena kesalahan yang kita perbuat, kita harus bersyukur bahwa ada orang yang mengasihi kita dengan memberikan tegoran dan mengingatkan kita. Kitapun harus mau menerima tegoran itu dan memperbaiki kesalahan yang telah kita perbuat agar kedepannya tidak terulang kembali. Suatu contoh, ada seorang pembalap yang sering kali terjatuh pada suatu tikungan. Hal itu terjadi berkali-kali dan membuat pembalap tersebut frustasi. Namun ketika dia mencoba berkonsultasi dengan rekan satu tim, dia pun belajar mengapa dia sering terjatuh di tikungan tersebut. Setelah itu ada rekan lain yang masih satu tim memberikan masukan dan saran kepada pembalap tersebut setelah mempelajari video rekaman. Ternyata ada yang salah dari pembalap tersebut pada saat menikung dan rupannya ini memperhatikan dengan cermat dan mempelajarinya. Lalu selanjutnya setelah berkonsultasi dengan beberapa rekan satu timnya tersebut, pembalap tersebut memperbaiki kesalahan saat menikung atau cornering. Hasilnya, pembalap tersebut akhirnya bisa melewati tikungan tersebut dengan sangat baik. Maka dari itu, mari kita semua harus mau memperbaiki kesalahan kita di masa lalu, agar kita dapat bangkit dari keterpurukan.
3. Mempergunakan karunia yang Tuhan telah berikan (Pasal 12)
Selanjutnya, Rasul Paulus kembali mengingatkan jemaat Korintus ini perihal keragaman karunia yang ada pada mereka, yang seharusnya mereka gunakan untuk saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Bukan untuk menonjolkan masing-masing karunia. Lagi-lagi Rasul Paulus menegor mereka bahwa karunia yang bergama ini, yang mana dikaruniakan Tuhan kepada mereka, seharusnya digunakan untuk kemuliaan pekerjaan Tuhan. Maka dari itu Rasul Paulus menegor mereka agar mereka dapat mempergunakan karunia mereka dengan baik, yang mana saling melengkapi satu dengan yang lain. Demikian juga kita yang mana kitapun juga dikaruniai oleh bermacam-macam karunia, yang mana keragaman karunia tersebut bertujuan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain. Namun karunia yang Tuhan percayakan tersebut ternyata tidak hanya dapat digunakan untuk orang lain, tetapi juga bisa kita gunakan untuk diri kita sendiri. Dalam artian, karunia tersebut bisa membangun kehidupan rohani kita sendiri, disamping membangun kehidupan rohani orang lain. Justru itulah, karunia yang diberikan kepada kita harus bisa membangun kehidupan diri pribadinya sendiri sebelum membangun orang lain. Apabila dikaitkan dengan tema renungan saat ini, karunia itulah justru akan sangat terasa manfaatnya untuk diri kita sendiri. Dengan karunia yang Tuhan telah berikan itulah yang menjadi motivasi dan semangat kita untuk bangkit dari keterpurukan. Karunia tersebut dapat membangun kehidupan kita secara pribadi. Sebagai contoh, ada seorang karyawan bengkel yang mengalami pengurangan karyawan di tempat dia bekerja karena situasi pandemi saat ini. Hal itu jelas membuat dia tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan, sedangkan dia sendiri menjadi tulang punggung dalam keluarganya. Namun, ia menyadari bahwa ia punya pengalaman bekerja di bengkel. Dengan tekad dan semangat yang kuat, ia berusaha merintis bengkel kecil-kecilan, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena dia punya semangat dan tekad yang kuat serta dia menyadari bahwa dia punya keterampilan dalam perbengkelan, ia pun akhirnya sukses dan mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Maka dari itu, kita sebagai orang percaya yang diberikan Tuhan berbagai rupa karunia, mari kita gunakan itu untuk memotivasi dan menyemangati diri kita sehingga kitapun dapat bangkit dari keterpurukan yang sedang kita hadapi. Percayalah bahwa Tuhan pun pasti menolong, asalkan kita juga berusaha dan dengan berserah penuh kepada Tuhan.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, kita sebagai anak-anak Tuhan sudah seharusnya bisa bangkit dari keterpurukan yang sedang kita hadapi. Apapun keterpurukan yang kita hadapi, selalu ingat bahwa kita masih punya Tuhan yang sanggup memberikan pertolongan. Tetapi perlu diingat, semua itu kembali kepada diri kita sendiri masing-masing. Kita pun juga harus berusaha dan disertai dengan penyerahan total diri kita kepada Tuhan. Kitapun juga perlu untuk belajar penyebab dari keterpurukan itu dan mengevaluasinya. Apabila kita terpuruk oleh karena kesalahan kita, maka kita harus bisa memperbaikinya agar tidak terulang lagi di kemudian hari. Lalu kitapun juga telah diberikan karunia kita masing-masing, dan karunia itupun bisa kita gunakan untuk membangun dan memotivasi diri kita sehingga kitapun bisa bangkit dari keterpurukan. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati, 😊🙏
Comments
Post a Comment