Ada Apakah Gerangan? - Ketika Kenyataan Tak Sesuai dengan Harapan

Ada Apakah Gerangan? – Ketika Kenyataan Tak Sesuai dengan Harapan
Keluaran 13:17-22
17 Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir."
18 Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.
19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: "Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini."
20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun.
21 TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.
22 Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.
Pendahuluan
Seringkali dalam kehidupan, kita mengalami sesuatu hal yang mengecewakan. Terkadang, apa yang kita angan-angankan, apa yang kita harapkan, atau apa yang kita impikan, tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Biasanya ketika hal itu terjadi, kita merasa kecewa. Kecewa dengan diri kita, dengan orang lain, atau bahkan kecewa dengan Tuhan. Lalu kita pun seringkali dalam keadaan ini, mulai menyalahkan diri sendiri, orang lain, atau juga menyalahkan Tuhan. Dan juga kita sering bertanya mengapa ini terjadi, atau mengapa ini bisa terjadi, harusnya tidak begini, harusnya tidak begitu. Dalam hal ini kita lebih cenderung, marah, kecewa, mulai menyalahkan, dan ada rasa penyesalan. Namun kita sebagai anak-anak Tuhan, tidaklah demikian. Ketika kita diperhadapkan dalam situasi seperti ini (kenyataan tak sesuai dengan harapan), kita harus berpikir dan bertanya, “ada apakah gerangan?” "adakah sesuatu yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup kita dengan situasi ini?” Di balik itu semua ada sesuatu yang Tuhan mau rancangkan dan kerjakan dalam kehidupan kita. Apakah itu?
1. Tuhan ingin mendidik kehidupan kita agar sesuai dengan kehendak dan recanaNya (ayat 17-18)
Dalam perjalanannya ke tanah yang dijanjikan itu, Tuhan tidak menuntun mereka ke jalan yang terdekat. Namun Tuhan menuntun mereka ke jalan yang lain, yang sebenarnya cukup jauh dan banyak tantangan yang akan mereka hadapi. Namun justru itulah yang Tuhan mau, karena Tuhan ingin mendidik umatNya. Sebenarnya bisa saja Tuhan menuntun umatNya melalui jalan terdekat itu. Namun apabila terjadi demikian, umat Israel harus berkonfrontasi dengan orang Mesir sepanjang jalur itu. Karena sepanjang jalur itu ada pos-pos militer Mesir. Apabila orang Israel melewati jalur tersebut, kemungkinan besar bisa terjadi pertempuran yang malah melemahkan mental orang Israel sehingga mereka kembali ke Mesir. Maka dari itulah, Tuhan menuntun mereka ke jalan lain. Hal itu bertujuan untuk mendidik mereka agar mereka siap menghadapi pertempuran dan tidak lemah mental mereka. Demikian juga dalam kehidupan kita, sering kali ketika kita ingin menuju kepada apa yang kita harapkan, idamkan atau impikan, yang sebenarnya bisa saja kita pikir bahwa apa yang kita capai itu mudah, namun kita harus diperhadapkan dengan kendala atau tantangan yang membuat kita harus mencari solusi alternatif lain untuk mencapai suatu tujuan itu. Nah, inilah yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Tuhan mendidik kita supaya kehidupan kita sesuai dengan kehendakNya. Tuhan bisa saja memberikan kemudahan dalam kita mencapai tujuan kita. Namun Tuhan mau kita diproses dan dididik agar kehidupan dan karakter kita bisa terbentuk sesusi dengan apa yang Tuhan mau dalam kehidupan kita. Sebab, kalau tidak demikian, akan menimbulkan suatu kesombongan. Suatu contoh (ilustrasi), Uzumaki Naruto, salah satu anime favorit saya yang penuh dengan makna pelajaran hidup. Naruto ini punya cita-cita menjadi seorang Hokage. Pada salah satu episodenya, ia pernah berkata “Tidak ada jalan singkat untuk menjadi seorang Hokage.” Ia menyadari bahwa untuk menjadi seorang Hokage itu tidaklah mudah, perlu ada proses bertahap, banyak ujian dan tantangan yang harus ia hadapi. Namun ia tidak pantang menyerah, hingga cita-citanya menjadi Hokage itu dapat terwujud. Sebenarnya ia bisa saja langsung diangkat menjadi Hokage, selain dia adalah anak dari Hokage Keempat (Minato Namikaze), ia juga memiliki kekuatan Kurama – Kyuubi di dalam dirinya yang luar biasa, bahkan hampir tanpa batas. Namun ia tidak mau demikian, ia harus melewati proses perjalanan dalam kehidupannya. Maka dari itu, kita harus bersyukur apabila ketika kita ingin mencapai suatu tujuan namun terjadi banyak kendala dan tantangan sehingga kita harus berusaha mencari alternatif lain, maka pada saat itulah Tuhan ingin mendidik kita, memproses kehidupan kita agar sesuai dengan kehendak dan rencanaNya.
2. Tuhan ingin kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan penyertaanNya (ayat 17-18, 21-22)
Dalam perjalanannya menuju ke tanah Kanaan, ada banyak sekali tantangan dan rintangan yang dihadapi oleh bangsa Israel. Kalau kita membayangkan perjalanan pada masa itu, tentunya sangatlah berat. Mereka harus menempuh perjalanan darat dengan bentangan alam yang cukup ekstrim. Mereka malah harus melewati padang gurung dengan cuaca yang sangat ekstrim dan berat. Apalagi di padang gurun sangat sedikit sekali tempat yang memiliki sumber air dan makanan. Belum lagi harus menghadapi binatang buas yang sewaktu-waktu mengancam nyawa mereka. Pada saat itu, belum ada sarana transportasi seperti sekarang ini, belum ada jalan beraspal. Belum lagi menghadapi tantangan para penyamun atau musuh-musuh mereka pada saat itu. Namun kita melihat bagaimana kebaikan Tuhan sepanjang perjalanan itu dan itulah yang Tuhan mau dalam kehidupan kita, yaitu senantiasa mengandalkan kebaikan dan penyertaaNya dalam kehidupan kita, dalam perjalanan kita menuju tujuan yang akan kita tuju. Tantangan yang kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, perlu kita jadikan dasar untuk kita senantiasa mengandalkan Tuhan dan penyertaanNya. Ketika kita menghadapi tantangan dan rintangan, kita tidak perlu takut ataupun kuatir karena Tuhan senantiasa menyertai kita dan yang selalu kita andalkan. Sebab kemampuan kita terbatas, mungkin kita bisa atau mampu, namun suatu ketika kita akan berada di suatu titik atau posisi dimana kita tidak akan mampu dan sanggup lagi dalam menghadapi tantangan tersebut. Maka dari itu, ketika kita menghadapi tantangan ataupun rintangan atau juga ketika kita diperhadapkan situasi kenyataan yang tak sesuai harapkan, ingatlah bahwa itu semua bertujuan agar kita senantiasa mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Suatu contoh, suatu ketika ada seorang anak dan ayah sedang menerbangkan pesawat kecilnya untuk berkeliling. Pada kesempatan itu, sang anak dipercaya untuk mengemudikan pesawat tersebut dan sang ayah hanya mengawasi saja sambil menikmati pemandangan dari atas. Lalu beberapa saat kemudian, cuaca berubah secara tiba-tiba. Cuaca yang semula cerah dan tenang, tiba-tiba menjadi mendung dan angin mulai bertiup kencang disertai dengan kilatan petir. Cuaca menjadi buruk pada saat itu. Sang ayah mulai mengingatkan anaknya dan ingin mengambil alih kemudi pesawat, namun sang anak menolak dan ingin mengemudikan pesawat tersebut. Sang anak merasa mampu mengemudikan pesawat tersebut di tengah cuaca buruk dan badai tersebut. Sang anak tersebut berusaha mengendalikan pesawat tersebut ditengah badai itu. Hingga pada suatu titik, dimana ia sudah tidak mampu lagi mengendalikan pesawat tersebut dan hampir saja pesawat tersebut mengalami celaka. Untungnya dengan sigap sang ayah segera mengambil alih kemudi pesawat dan menerbangkannya menuju ke tempat yang aman. Terkadang dalam kehidupan kitapun demikian, dalam perjalanan hidup kita, Tuhan senantiasa menyertai kita. Namun ketika kita menghadapi masalah atau tantangan atau pergumulan, kita sering lupa kalau Tuhan senantiasa menyertai kita, karena kita terfokus dengan permasalahan yang kita hadapi. Maka dari itu, marilah kita senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap kehidupan kita, karena Tuhan menginginkan demikian.
3. Tuhan ingin menyatakan kemuliaanNya dalam kehidupan kita (ayat 21-22)
Selanjutnya, dalam perjalanan menuju ke tanah yang dijanjikan itu, Tuhan memelihara umatNya secara luar biasa. Ada tiang awan yang menaungi mereka di panas terik siang hari dan ada tiang api yang menerangi dan menghangatkan mereka pada saat malam. Di tengah padang gurun, Tuhan menyediakan air bagi mereka dan makanan secara ajaib. Dengan kata lain, Allah memenuhi kebutuhan mereka sepanjang perjalanan itu. Itu semua tujuannya adalah untuk menyatakan kemuliaan Tuhan ditengah-tengah umatNya. Kalau saja orang Israel dituntun melalui jalan yang terdekat, mungkin mereka tidak akan pernah merasakan kebaikan dan penyertaan Tuhan. Dan bahkan mungkin mereka tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib yang dialami dalam perjalanan itu. Demikian pula dalam kehidupan kita, seringkali Tuhan ijinkan kita harus berputar-putar dahulu sebelum mencapai apa yang akan kita capai. Tujuannya adalah supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam kehidupan kita. Kita akan sungguh-sungguh mengalami penyertaan dan mujizat Tuhan yang luar biasa. Dengan demikian, kita tak perlu merasa kecewa dan marah ketika kenyataan yang kita hadapi tak sesuai dengan kenyataan. Mungkin saat itu ketika bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan dituntun menuju tanah yang dijanjikan, mereka berpikir bahwa perjalanan itu akan lancar-lancar saja, tidak ada halangan ataupun rintangan. Namun pada kenyataannya, mereka justru menghadapi tantangan dan rintangan yang cukup berat. Sebagai contoh, ketika saya pulang ke Semarang dengan mengendarai sepeda motor, awalnya saya berpikir perjalanan nanti akan berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada kendala. Namun pada kenyataannya, banyak tantangan yang harus saya hadapi. Waktu itu kondisi pandangan mata tidak sebaik sekarang, apalagi waktu itu perjalanan malam. Ditambah waktu itu saya kehabisan stok suntikan insulin, dan gampang sekali lelah jadi kadang saya harus berhenti atau mencari tempat untuk beristirahat sejenak. Belum lagi harus bersaing dengan bis malam yang merajai jalanan. Saya hampir saja jatuh karena dipepet beberapa bis malam. Belum lagi rasa ngantuk yang menyerang. Namun hal itu tidak menyurutkan saya untuk pulang ke Semarang. Secara manusia, ekspektasi saya tentang perjalanan yang saya jalani berbeda dengan kenyataan. Saya pikir kalo perjalanan malam lebih tenang dan lebih sepi, agak dingin cuacanya. Namun pada kenyataannya, perjalanan malam lebih berat daripada perjalanan siang. Saya bersyukur dapat sampai di Semarang dengan selamat dan tanpa ada kekurangan sesuatu apapun. Saya percaya bahwa Tuhan yang menyertai dan melindungi saya dalam perjalanan tersebut dan itupun saya juga percaya bahwa semua itu bertujuan agar kemuliaan Tuhan dinyatakan.
Kesimpulan
Mari kita belajar untuk evaluasi diri ketika kenyataan yang kita hadapi itu tidak sesuai dengan kenyataan. Dan dalam hal ini kita harus bertanya, ada apa dibalik ini semua, atau apa yang Tuhan mau kerjakan dalam kehidupan saya melalui peristiwa ini. Tuhan ingin kehidupan kita senantiasa bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati

Comments

Popular posts from this blog

Penciptaan Manusia Menurut Teks Kejadian 1:27-28 & 2:7: Sudut Pandang Teologi Injili dan Relevansinya bagi Orang Percaya Masa Kini

Arti Kata "Ekklessia"

Ketika Ujian Berat itu Datang